KOHATI Dari Pertarungan Ideologi ke Penjaga Nurani Bangsa

Arsip Foto Kongres HMI tahun 1966

Sejarah bangsa Indonesia adalah sejarah pergulatan gagasan, ideologi, dan perjuangan mempertahankan arah republik. Pada pertengahan dekade 1960-an, bangsa ini nyaris runtuh oleh tragedi Gerakan 30 September (G30S) yang dilakukan Partai Komunis Indonesia (PKI). Dengan kekuatan massa yang besar, PKI berambisi menggantikan dasar negara dan melumpuhkan seluruh kekuatan yang dianggap penghalang. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menjadi salah satu target utama.

HMI di Tengah Pertarungan Ideologi

Saat itu, tuduhan demi tuduhan diarahkan kepada HMI. Organisasi ini dicap kontra-revolusi, kaki tangan imperialisme, bahkan musuh rakyat. Kampanye “Bubarkan HMI” digemakan oleh underbouw PKI seperti CGMI, Pemuda Rakyat, dan Gerwani. Namun, sejarah mencatat HMI tidak goyah. Presiden Soekarno bahkan pernah menegaskan bahwa "HMI adalah anak ideologis revolusi, bukan kontra-revolusi.” Pernyataan itu menjadi tameng penting yang menyelamatkan HMI di tengah pusaran politik berbahaya. Dukungan juga datang dari tokoh-tokoh bangsa. Jenderal A.H. Nasution menyebut bahwa “HMI adalah benteng mahasiswa Islam yang berdiri di garis depan melawan komunisme.” Dukungan moral ini mempertegas posisi HMI bukan sekadar organisasi mahasiswa, melainkan kekuatan ideologis yang kokoh mempertahankan Pancasila dan keutuhan republik.

Ketika mahasiswa turun ke jalan tahun 1966 membawa TRITURA (Bubarkan PKI, turunkan harga, bersihkan kabinet), HMI berdiri di garis depan. Ia bukan hanya ikut serta, tetapi menjadi motor moral dan intelektual gerakan mahasiswa. Sejarah kemudian mencatat, HMI berperan besar dalam meruntuhkan rezim kekuasaan lama yang anarkial, sekaligus menjaga agar arah republik tidak jatuh ke tangan komunisme. HMI tetap konsisten menjalankan fungsinya, tanpa harus tunduk pada kepentingan politik rezim yang lahir sesudahnya.

Kekosongan Wadah Khusus Perempuan Pasca Gerwani

Setelah G30S, Gerwani sebagai underbouw perempuan PKI runtuh. Organisasi yang awalnya mengusung emansipasi perempuan itu berubah menjadi alat propaganda komunis, bahkan ikut menyebarkan kebencian dan kekerasan. Runtuhnya Gerwani menandai berakhirnya model gerakan perempuan bercorak kiri.

Namun, ruang perempuan dalam kehidupan berbangsa tidak boleh kosong. Indonesia tetap membutuhkan perempuan sebagai penopang moral, penggerak sosial, dan penjaga nurani. HMI menyadari hal itu. Sejak berdiri pada 1947, HMI memiliki anggota perempuan (HMI-Wati), tetapi mereka belum memiliki wadah khusus untuk mengembangkan potensi, kepemimpinan, dan peran sosial.

Jejak Langkah Perempuan HMI 

Dalam suasana penuh dinamika itulah, pada 17 September 1966, lahirlah Korps HMI-Wati (KOHATI). Kelahiran ini bukan sekadar mengisi ruang kosong pasca Gerwani bubar, melainkan menjawab kebutuhan internal HMI sekaligus kebutuhan bangsa. Tujuan awal berdirinya KOHATI adalah diantaranya;

1. Menghimpun dan membina kader perempuan HMI agar tidak tercerai-berai dan mampu berkontribusi nyata.

2. Mencetak pemimpin perempuan muslim yang berilmu, berakhlak, dan mampu tampil di ruang publik.

3. Menegaskan peran perempuan sebagai subjek sejarah, bukan sekadar pelengkap.

4. Menghadirkan gerakan perempuan yang bermoral dan berlandaskan nilai Islam, sebagai antitesis dari Gerwani yang terjerumus dalam ideologi komunis.

Dra. Hj. Andi Rasdiyanah Amien, tokoh perempuan HMI, menegaskan bahwa “Perempuan tidak boleh hanya menjadi objek dalam perjuangan bangsa, tetapi harus tampil sebagai subjek yang membawa nilai, ilmu, dan akhlak dalam setiap langkah sejarah.” Kutipan ini memperlihatkan perbedaan mendasar antara KOHATI dan Gerwani. Jika Gerwani menjadikan perempuan sebagai alat ideologi, maka KOHATI menghadirkan perempuan sebagai penjaga moral, akhlak, dan peradaban.

Langkah Kongkrit KOHATI di Tahun-Tahun Awal Berdirinya

Sejak berdirinya, KOHATI langsung mengambil langkah nyata, seperti:

1. Kaderisasi Intelektual

KOHATI mengadakan diskusi, seminar, dan pelatihan kepemimpinan bagi HMI-Wati di berbagai cabang. Tema yang diangkat berkisar pada peran perempuan muslim dalam pembangunan dan bedanya visi Islam dengan ideologi kiri.

2. Kegiatan Sosial Masyarakat

KOHATI terjun langsung dalam program sosial, seperti pengajaran baca-tulis, kursus keluarga sakinah, serta pelayanan kesehatan sederhana di daerah-daerah.

3. Aktivitas Akademik

Kader KOHATI ikut aktif menulis di buletin HMI, menyumbang gagasan dalam forum kampus, dan menegaskan kehadiran perempuan muslim di dunia intelektual.

4. Advokasi Moral

Dalam forum mahasiswa, KOHATI tegas menolak komunisme, dan memperjuangkan agar perempuan hadir sebagai benteng nilai Islam di tengah bangsa.

Media masa seperti Harian Abadi (1966) mencatat kiprah kader HMI dan sayap perempuannya sebagai bagian penting konsolidasi mahasiswa Islam pasca-G30S.

KOHATI dan Relevansi Kontemporer

Jika pada tahun 1965–1966 ancaman bangsa datang dari ideologi komunis, maka hari ini tantangan berbeda bentuknya seperti krisis moral, polarisasi politik, korupsi, budaya permisif, dan arus globalisasi digital yang membawa generasi muda pada sikap apatis.

Dalam situasi ini, peran KOHATI semakin relevan. Ia harus menjadi benteng moral di tengah runtuhnya etika publik, pusat pembinaan intelektual di tengah derasnya informasi tanpa saringan, serta penggerak sosial yang merajut kembali keutuhan bangsa. 

Pesan Lafran Pane sang pendiri HMI masih tetap relevan yakni “HMI didirikan bukan untuk menjadi alat politik, tetapi untuk memperjuangkan terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah.” Pesan ini adalah nafas sejarah yang menuntun HMI dan KOHATI hingga kini.

Indonesia tidak hanya butuh pemimpin yang pandai bicara, tetapi generasi yang teguh menjaga nurani. Indonesia butuh perempuan-perempuan cerdas yang berani melawan arus pragmatisme. Dan di titik inilah, KOHATI harus berdiri.

Jika dahulu KOHATI lahir mengisi kekosongan pasca runtuhnya Gerwani, maka kini KOHATI hadir mengisi kekosongan integritas generasi muda. Jika dahulu KOHATI meneguhkan wajah baru perempuan muslim dalam gerakan mahasiswa, maka kini KOHATI harus tampil sebagai wajah baru perempuan Indonesia: berdaya, kritis, berakhlak, dan mampu memimpin perubahan.

Sejarah telah mencatat HMI dan KOHATI berdiri teguh melawan komunisme dan menjaga republik dari kehancuran. Kini, sejarah menunggu jawaban baru apakah KOHATI siap menjadi penjaga moral bangsa di tengah krisis integritas dan polarisasi politik? Jawabannya harus tegas: YA, KOHATI HARUS SIAP.

KOHATI tetap ada. KOHATI tetap berperan. KOHATI akan terus menjadi cahaya yang menuntun bangsa, sebagaimana ia berdiri sejak hari pertamanya untuk berani, bernilai, dan berpihak pada kebenaran.


Oleh : Annisa Nabila Khairani (Sekretaris Umum Kohati Cabang Jakarta selatan) 



Sumber : 

Reza Harum Novia. Kohati: Analisis Peran dan Dinamika Gerakan Perempuan HMI. UIN Sunan Ampel Surabaya, 2022.

Media Massa Harian Abadi, edisi 1966.

Arsip PB HMI. Sejarah Perjalanan HMI 1947–1987.

Vedi R. Hadiz. Localising Power in Post-Authoritarian Indonesia. Stanford University Press, 2010.

“Sejarah Berdirinya Korps HMI-Wati (KOHATI).” Blog HMI Komisariat Teknik UM, 2013.

Eka Amelia, Dinamika Pergerakan KOHATI dalam Upaya Mewujudkan Keadilan Gender. Blogspot, 2017. 

“Kohati dan Dinamika Gerakan Perempuan.” Spektrum Nasional, 2021. Link.

Pidato Soekarno, A.H. Nasution (arsip HMI).

Wieringa, Saskia. Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia. Jakarta: Garba Budaya, 1999.

Komentar