Cinta sering kali dipuja sebagai sumber kebahagiaan, tempat berlindung, bahkan alasan seseorang bertahan hidup. Namun, kisah memilukan yang menimpa Tiara Angelina Saraswati (TAS) justru membalikkan gambaran indah itu menjadi sebuah tragedi yang mengerikan. Perempuan yang seharusnya dicintai, dirawat, dan dijaga, justru berakhir kehilangan nyawa di tangan orang yang pernah ia percayai. Kasus mutilasi sadis yang dilakukan Alvi Maulana bukan sekadar kriminalitas brutal, tetapi juga cermin betapa rapuhnya hubungan ketika cinta berubah arah dari janji kebahagiaan menjadi bencana yang merenggut martabat dan kehidupan.
Kasus mutilasi yang menimpa Tiara Angelina Saraswati (TAS) di Surabaya akhir Agustus lalu masih menyisakan luka mendalam bagi masyarakat khusunya kaum perempuan. Tindakan keji Alvi Maulana, yang tega menghabisi nyawa kekasihnya sendiri lalu memutilasi jasad korban hingga ratusan bagian, memperlihatkan sisi gelap manusia ketika dikuasai amarah dan emosi. Dikutip dari ANTARA dan DetikJaktim, Polisi menemukan potongan tubuh korban secara bertahap, hingga Senin (8/9/2025) tercatat sudah 310 potongan tubuh yang ditemukan, mulai dari jaringan otot, tulang, gigi, hingga kulit kepala dikumpulkan di RS Pusdik Sabhara Porong. Fakta yang begitu mengerikan ini tidak seharusnya hanya dijadikan konsumsi sensasi publik, melainkan refleksi bersama tentang rapuhnya posisi perempuan dalam hubungan yang tidak sehat.
Hubungan Alvi dan TAS telah berlangsung bertahun-tahun tanpa ikatan resmi. Mereka tinggal bersama layaknya pasangan suami-istri, padahal belum terikat pernikahan. Dalam Islam, pernikahan bukan hanya simbol, melainkan ikatan sakral yang menjaga kehormatan, melindungi hak, dan menegaskan tanggung jawab. Ketika ikatan itu diabaikan, perempuan sering kali berada pada posisi yang rentan, baik secara sosial, moral, maupun hukum. Kondisi ini menempatkan perempuan pada posisi yang sangat rentan, baik secara sosial, moral, maupun hukum. Tanpa adanya kejelasan ikatan, perempuan kerap menjadi pihak yang paling dirugikan ketika konflik terjadi. Kasus TAS membuktikan bahwa relasi tanpa fondasi jelas bisa berujung fatal, bahkan hingga kehilangan nyawa dan meninggalkan trauma mendalam bagi keluarga korban.
Motif pelaku terungkap dari hasil pemeriksaan polisi, dimana dugaan pelaku mengaku kesal karena korban sering temperamen, menuntut gaya hidup tinggi, dan menekan dirinya secara emosional. Saat konflik memuncak, ia melampiaskan kemarahan dengan cara keji. Fakta lain yang mengejutkan adalah latar belakang Alvi sebagai mantan tukang jagal hewan, yang membuatnya memiliki keterampilan memotong tubuh dan menjadi alasan mengapa tindakan mengerikkan itu dipakai untuk melancarkan aksi jahatnya. Hal ini meninggalkan luka yang tidak akan pernah terhapus bagi keluarga TAS, kehilangan seorang anak bukan hanya soal duka, tetapi juga kerugian besar yang tidak ternilai. Seorang anak perempuan dengan masa depan cerah direnggut dengan cara paling kejam, meninggalkan trauma psikologis dan luka batin yang mungkin tidak akan pernah sembuh bagi keluarga korban dan juga seluruh perempuan diluar sana.
Kasus ini juga menunjukkan betapa berbahayanya toxic relationship. Perselisihan yang awalnya hanya berupa konflik kecil seperti perbedaan karakter, tuntutan finansial, hingga sikap temperamental ternyata bisa berkembang menjadi bom waktu. Kekerasan, baik verbal maupun fisik, tidak lahir secara tiba-tiba. Ia lahir dari toleransi atas tanda-tanda bahaya yang diabaikan. Sayangnya, banyak perempuan memilih bertahan dengan harapan pasangan akan berubah. Padahal, kenyataan menunjukkan bahwa bertahan dalam hubungan yang toxic justru semakin mengikis harga diri, merenggut kebahagiaan, bahkan bisa berakhir tragis.
Pelajaran besar dari kasus TAS adalah pentingnya perempuan menjaga diri, bukan dalam arti membatasi kebebasan, tetapi melindungi martabat dan keselamatan. Dalam Islam, menjaga diri (hifzh an-nafs dan hifzh al-‘irdh) adalah bagian dari maqashid syariah dengan tujuan utama syariat yang melindungi jiwa dan kehormatan. Menjaga diri berarti berani berkata tidak pada hubungan yang tidak jelas, berani keluar dari lingkaran penuh kekerasan, dan berani memilih jalan yang diridhoi Allah meskipun itu sulit. Cinta yang sejati tidak akan pernah melukai, apalagi mengancam nyawa. Lebih dari itu, perempuan juga harus belajar untuk mandiri, tidak bergantung secara berlebihan pada laki-laki, dan tidak mudah merasa nyaman dalam ikatan yang semu. Kenyamanan yang salah arah sering kali menjerat pada hubungan yang merugikan diri sendiri. Kita juga perlu mengingat jerih payah orang tua yang telah berkorban membesarkan kita. TAS, misalnya, adalah anak perempuan pertama dari pasangan sederhana yang mencari nafkah dengan berjualan sempol. Orang tuanya dengan susah payah membiayai pendidikan hingga bangku kuliah, tetapi yang terjadi justru penyesalan mendalam ketika sang anak memilih jalan hidup yang keliru: tinggal bersama kekasih tanpa ikatan pernikahan, yang akhirnya berakhir pada tragedi. Inilah sebabnya, perempuan harus lebih bijak dalam melangkah, lebih hati-hati menjaga kehormatan, dan lebih teguh memegang nilai. Sebab, menjaga diri bukan hanya untuk diri sendiri, melainkan juga untuk menghargai pengorbanan keluarga serta memuliakan masa depan.
Kasus TAS mengajarkan bahwa cinta bisa menjadi anugerah, tetapi juga bisa berubah menjadi bencana jika dijalani dengan cara yang salah. Dalam Islam, cinta seharusnya menjadi jalan menuju ridhā Allah, bukan sebaliknya. Tragedi ini seharusnya tidak hanya menjadi kisah pilu di media, tetapi juga menjadi pengingat mendalam bahwa menjaga diri adalah kewajiban setiap muslimah. Tulisan ini bukan hanya untuk orang lain, melainkan juga sebagai pengingat pribadi saya: bahwa kebebasan tidak boleh mengikis kehormatan, kenyamanan tidak boleh membutakan mata hati, dan cinta tidak boleh menjauhkan kita dari nilai-nilai agama yang menjaga keselamatan hidup. Dari peristiwa ini, marilah kita belajar untuk lebih bijak, lebih tegas menjaga batas, serta lebih tulus menghargai pengorbanan orang tua yang telah bersusah payah membesarkan kita. Karena pada akhirnya, cinta sejati bukanlah yang berakhir dengan air mata dan kehilangan, melainkan yang mampu menjaga martabat, keselamatan, dan masa depan.
Ditulis oleh : Fadhilah Azzahra (Anggota Bidang Kominfo KOHATI Jakarta Selatan Periode 2025/2026)

Komentar
Posting Komentar